Sunday 15 February 2026 - 17:05
Ancaman Presiden Amerika Serikat Langgar Hukum Internasional dan Merupakan Pelanggaran terhadap Kedaulatan Iran

Hawzah/ Hujjatul Islam wal Muslimin Al-Daqqaq menyebut ancaman Presiden Amerika Serikat terhadap Republik Islam dan Pemimpin Tertinggi sebagai “pelanggaran terhadap norma-norma internasional dan bentuk agresi terhadap kedaulatan sebuah negara yang memiliki kedudukan regional dan religious."

Berita Hawzah – Konferensi pers dalam rangka memperingati hari jadi Revolusi Bahrain digelar pada 14 Februari 2026 di Museum Sarang Mata-mata Amerika Serikat di Teheran. Acara tersebut dihadiri oleh Hujjatul Islam wal Muslimin Sheikh Abdullah Al-Daqqaq, salah satu ulama revolusioner Bahrain sekaligus perwakilan dari Isa Qassim. Dalam kesempatan itu, pesan Sheikh Isa Qassim, pemimpin Revolusi Bahrain, turut dibacakan.

Dalam pernyataannya, Hujjatul Islam wal Muslimin Al-Daqqaq menegaskan bahwa hak tidak akan gugur seiring berjalannya waktu, terlebih apabila masih ada pihak yang terus menuntutnya. Ia menyebut 14 Februari 2011 sebagai titik balik dalam sejarah politik Bahrain—hari yang menunjukkan tekad rakyat untuk meraih martabat kemanusiaan dan mewujudkan perubahan yang menjamin hak-hak sosial dan politik seluruh warga negara secara adil.

Menurutnya, persoalan utama Bahrain adalah tuntutan rakyat atas keadilan dalam menentukan masa depan politik negara tersebut. Ia menegaskan bahwa rakyat Bahrain, dengan tingkat kesadaran politik yang tinggi, tetap berpegang pada tuntutan yang sah, pendekatan damai, dan wacana persatuan nasional, serta terus berkorban. Namun demikian, ia menilai pemerintah dalam menghadapi oposisi politik justru menempuh apa yang disebutnya sebagai “pengembangan instrumen penghapusan dan pembalasan politik.”

Al-Daqqaq juga menyebut ancaman Presiden Amerika Serikat terhadap Republik Islam dan Pemimpin Tertinggi sebagai pelanggaran terhadap norma-norma internasional serta bentuk agresi terhadap kedaulatan negara yang memiliki kedudukan regional dan religius. Ia menegaskan bahwa menjadikan Pemimpin Tertinggi sebagai sasaran merupakan tindakan terhadap simbol politik dan keagamaan yang terikat dengan perasaan jutaan umat Muslim.

Lebih lanjut, ia menilai kebijakan Washington sebagai faktor yang memperburuk ketegangan di kawasan. Menurutnya, Amerika Serikat melalui pendekatan intervensinya telah meninggalkan biaya kemanusiaan dan material yang besar, serta dalam beberapa kasus dengan mendukung sekutu regional tertentu turut memperluas budaya impunitas atau kekebalan dari hukuman.

Dalam konteks tersebut, ia menyinggung kasus Jeffrey Epstein dan menyebutnya sebagai contoh krisis moral dan hukum di Barat. Ia juga menyatakan bahwa munculnya nama Donald Trump dalam kasus tersebut menimbulkan berbagai pertanyaan. Menurutnya, seruan tentang hak asasi manusia hanya akan bermakna apabila diterapkan secara konsisten dan tanpa pengecualian.

Di akhir pernyataannya, ia menegaskan bahwa isu Bahrain akan terus diangkat dalam berbagai forum internasional. Ia mengajak para aktivis hukum dan media untuk melanjutkan pembelaan terhadap tuntutan rakyat Bahrain, seraya menekankan bahwa hak-hak bangsa tersebut akan terwujud melalui peningkatan kesadaran global serta perjuangan melalui jalur-jalur yang sah.

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha